Advertisement
Opini
Beranda » Berita » Istilah “Nusantara” di Net Pagi ORARI Frek. 144.560 MHz Picu Diskusi, Silaturahmi Tetap Jadi Tujuan

Istilah “Nusantara” di Net Pagi ORARI Frek. 144.560 MHz Picu Diskusi, Silaturahmi Tetap Jadi Tujuan

TERAS WAKTOE.COM — Makassar,Sulawesi Selatan

Perbincangan mengenai penggunaan istilah “Nusantara” dalam kegiatan Net Pagi 2 Meter Band anggota ORARI di Sulawesi Selatan yang diberi label Net Pagi ORARI Nusantara pada frekuensi 144.560 MHz mencuat di kalangan partisipan.

Diskusi ini bermula dari pertanyaan salah seorang anggota amatir radio YC8ATL–Aris Toteles, di Grup Whatsapp “Net Pagi ORARI Nusantara pada frekuensi 144.560 MHz”, terkait kesesuaian istilah tersebut dari sisi teknis komunikasi radio.

Dalam penyampaiannya, Aris Toteles -YC8ATL mempertanyakan apakah penggunaan kata “Nusantara” sudah tepat, mengingat perbedaan karakteristik jangkauan antara band HF dan VHF. Pada band HF, komunikasi memungkinkan menjangkau wilayah luas hingga skala nasional. Sementara pada band VHF tanpa dukungan stasiun repeater, jangkauan relatif terbatas.

Meski demikian, pertanyaan tersebut disampaikan dengan penuh kehati-hatian. Ia menyampaikan bahwa tidak ada maksud untuk menimbulkan kegaduhan, bahkan disertai permohonan maaf agar pandangannya tidak disalahartikan.

Kadis Infokom Resmi Buka SES 8A66PK Orari Lokal Pangkep

Inti pertanyaannya adalah apakah layak menyematkan kata “Nusantara” pada aktivitas di band VHF yang jangkauannya terbatas—sebuah pertanyaan yang sah. Dari sisi teknis, argumen itu berdiri kokoh. HF memang mampu menjangkau lintas wilayah Nusantara, sementara VHF, tanpa repeater, bergerak dalam radius yang lebih terbatas.

Namun, sejumlah anggota lainnya pun memberikan pandangan berbeda. Istilah “Nusantara” dinilai tidak perlu dilihat semata dari aspek teknis, melainkan dipahami dalam konteks kebersamaan komunitas. Radio amatir berkaitan dengan jangkauan sinyal, sekaligus tentang keterhubungan antar amatir radio.

Di titik inilah makna “Nusantara” menemukan tempatnya. Ia tidak berhenti pada batas geografis atau luasnya jangkauan frekuensi, tetapi hidup dalam semangat menyatukan, menghubungkan yang berjauhan, mendekatkan yang berbeda, dan merangkul dalam satu rasa kebersamaan di udara.

“Arti Nusantara jangan hanya dilihat dari aspek teknis, tetapi juga dalam keseluruhan konteks kebersamaan,” ungkap Bustan Bakri (YC8ELH), Sekretaris DPP ORARI Lokal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Sementara itu Ketua ORARI Lokal Makassar Ir. H. Andi Agussalim -YB8AGM menilai Perbedaan pendapat terkait istilah tidak perlu dijadikan pertentangan. Penamaan dapat berubah sesuai kesepakatan.

Sekretaris DPP ORARI Lokal Pangkep: Literasi Digital Anggota Perlu Ditingkatkan

Yang utama adalah niat, dan tujuan bersama. Menurunya mempertemukan berbagai konsep untuk diramu menjadi satu tujuan kadangkala memang tidak mudah. “Selamat untuk kita semua ayo terus belajar dan berkarya demi kepentingan bersama.” Ungkap Ketua Orlok Makassar ini

Melihat dua pandangan yang mengemuka, menurut Penulis keduanya sesungguhnya memiliki pijakan yang dapat dipahami. Perspektif teknis memberi kejelasan dan ketepatan dalam penggunaan istilah, sementara sudut pandang kebersamaan memberi jiwa pada istilah itu sendiri. Keduanya saling melengkapi dalam membangun pemahaman yang lebih luas.

Memang, nama memiliki arti. Ia memberi identitas, arah, dan kebanggaan. Namun makna “Nusantara” dalam net pagi ini tumbuh dari kebersamaan yang terbangun, dari suara yang saling menyapa, dari keterhubungan yang terus dijaga.

Net Pagi ORARI pada frekuensi 144.560 MHz menjadi ruang silaturahmi, tempat anggota belajar, berlatih, dan menjaga koneksi melalui gelombang radio serta sikap saling menghargai.

Di sanalah “Nusantara” tidak lagi hanya “Istilah”, melainkan menjadi pengalaman bersama.

Besok, SES 8A66PK Resmi Digelar, ORARI lokal Pangkep Gaungkan HUT Kabupaten Pangkep ke-66

Diskusi yang muncul patut diapresiasi. Ia menunjukkan bahwa anggota masih peduli, masih berpikir, dan masih ingin kegiatan ini berjalan dengan baik. Namun diskusi akan kehilangan makna jika berubah menjadi tarik-menarik ego atas nama istilah.

Pada akhirnya, “Nusantara” tidak diukur dari seberapa luas jangkauan frekuensi, melainkan dari seberapa kuat kebersamaan yang terjalin di dalamnya.

Di udara, jangkauan memiliki batas. Kebersamaan melampaui itu.
Dan di sanalah “Nusantara” menemukan arti yang sesungguhnya.
Penulis: WAHYUDIN SUYUTI -YB8FBL
– Wakil Ketua ORARI Lokal Barru, Sulawesi Selatan
-Pimpinan Redaksi Teraswaktoe. Com