Oleh: Wahyuddin Suyuti
Ada yang berubah dari cara kita memandang seni rupa belakangan ini. Jika dulu karya-karya itu hanya bisa kita temui di ruang galeri yang tenang, kini percakapan tentang seni justru terasa lebih hangat di meja-meja kayu warung kopi. Saya menyaksikan sendiri bagaimana Steya Coffee, di sudut Kompleks Permata Hijau Permai Makassar malam itu Minggu, 23 Nopember 2025 menjelma menjadi ruang dialog yang hidup, tempat perupa dan publik saling bertukar pandangan tanpa jarak.
Makassar Art Initiative Movement (MAIM) menghadirkan pendekatan yang menurut saya layak dicatat. Mereka memamerkan karya di STEYA COFFEE sebuah ruang publik, dan membedahnya di tengah aroma kopi yang baru diseduh. Bedah karya di warung kopi seperti itu menghadirkan suasana yang cair, tanpa tekanan formalitas. Setiap komentar, tanya jawab, dan perdebatan kecil menggambarkan bahwa seni membutuhkan ruang yang dekat dengan denyut hidup masyarakat.
Sejumlah Seniman yang tergabung dalam komunitas Makassar Art Initiative Movement (MAIM) menyampaikan gagasan kreatif mereka tanpa “panggung” yang biasanya mengitari sebuah forum resmi. Di sini, karya dipahami bukan sebagai sesuatu yang harus diinterpretasi dengan teori rumit, melainkan sebagai cerita dan pengalaman visual yang dapat didekati siapa saja. Pengunjung yang awalnya hanya datang untuk menikmati kopi, perlahan terlibat, menanyakan makna, atau memberi komentar jujur dari sudut pandang awam. Dan menurut saya, di situlah seni menemukan kembali napasnya.
Ruang publik seperti STEYA COFFEE bagi mereka tidak hanya menjadi tempat menyeruput Kopi dan memamerkan karya, tetapi juga laboratorium kecil bagi keberanian perupa untuk menjelaskan gagasan, menerima kritik, dan berdialog langsung dengan publik. Sebaliknya, publik mendapatkan kesempatan memahami seni secara natural, dan bebas.
Menurut saya, jika Makassar ingin membangun ekosistem seni yang hidup dan dinamis serta memperkaya khasanah budaya maka , ruang-ruang alternatif seperti ini harus terus tumbuh, bahkan seharusnya Pemerintah Kota Makassar memperbanyak Ruang Publik bagi Seniman untuk berkreasi.
Seni tidak boleh hanya tinggal di galeri; ia perlu hadir di tempat-tempat yang menjadi napas keseharian warga. Warung kopi hanyalah satu pintu awal. Dan dari pintu itulah Seni,akan dekat serta tumbuh bersama masyarakat.

