WAHYUDDIN SUYUTI
Belakangan muncul pandangan bahwa Barru belum layak mengandalkan pariwisata sebagai sektor utama Pendapatan Asli Daerah (PAD). Alasannya beragam: keterbatasan infrastruktur pendukung, promosi yang belum maksimal, hingga daya saing destinasi yang dinilai kalah dari daerah lain.
Pandangan tersebut lahir dari pembacaan atas kondisi faktual. Pariwisata memang bukan sektor instan. Ia menuntut kesiapan destinasi, tata kelola profesional, konektivitas memadai, serta dukungan investasi berkelanjutan. Tanpa itu, potensi hanya akan berhenti pada narasi keindahan, belum menjelma menjadi kekuatan ekonomi daerah.
Namun, menyatakan Barru tidak bisa diandalkan di sektor ini juga merupakan kesimpulan yang terlalu dini.
Penulis memahami dinamika tersebut bukan dari kejauhan. Selama lebih dari sepuluh tahun mengabdi sebagai PNS di Kantor Pariwisata Kabupaten Barru, pernah dipercaya sebagai kepala Seksi Kajian Sejarah Budaya, Kepala Bidang Kebudayaan serta Sekretaris Dinas Pariwisata, penulis menyaksikan langsung bagaimana potensi dan tantangan berjalan beriringan. Ada fase optimisme, ada pula periode stagnasi akibat keterbatasan anggaran .
Barru memiliki modal dasar yang kuat: bentang pantai yang panjang, lanskap perbukitan yang eksotis, serta kekayaan budaya lokal yang autentik. Letaknya di jalur strategis trans Sulawesi menjadi nilai tambah aksesibilitas. Potensi ini nyata, tetapi membutuhkan konsistensi pengelolaan.
Masalah utama bukan pada ketiadaan daya tarik, melainkan pada kesinambungan strategi. Pariwisata memerlukan fokus pada destinasi unggulan, penguatan event budaya yang terjadwal, peningkatan kapasitas pelaku wisata, serta kolaborasi lintas sektor, mulai dari UMKM hingga ekonomi kreatif.
Pandangan tentang pentingnya fokus tersebut pernah disampaikan oleh Wakil Bupati Barru Abustan A Bintang, saat masih menjabat sebagai Sekretaris Daerah Barru. Ia menilai potensi pariwisata Barru cukup beragam, namun pengembangannya harus dimulai dari satu objek prioritas yang benar-benar dituntaskan.
Abustan mencontohkan Pantai Ujung Batu sebagai destinasi yang jika ingin dijadikan sebagai tempat wisata menarik , maka pembangunannya harus diselesaikan secara menyeluruh sebelum membuka pengembangan objek lainnya.
Gagasan itu sesungguhnya sejalan dengan semangat tagline daerah, “Singgah di Barru.” yg mengandung makna strategis: menjadikan Barru sebagai titik berhenti yang bernilai.
Agar “Singgah di Barru” tidak berhenti sebagai slogan, maka pemkab Barru telah berupaya secara bertahap menggerakkan seluruh potensi yang ada.
Jika dikelola dengan pendekatan terpadu, pariwisata dapat menjadi salah satu penopang PAD. Ia mungkin tidak berdiri sendiri sebagai sumber utama, tetapi mampu menjadi penggerak ekonomi yang menghidupkan banyak lini usaha masyarakat.
Perdebatan tentang layak atau tidaknya pariwisata dijadikan sektor andalan seharusnya menjadi ruang evaluasi bersama. Kritik perlu dibaca , agar potensi yang ada berubah menjadi kontribusi nyata bagi pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Barru masih memiliki peluang. Yang dibutuhkan adalah arah kebijakan yang konsisten, manajemen profesional, serta keberanian menjadikan “Singgah di Barru” sebagai komitmen pembangunan.
Penulis : Mantan Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Barru, Alumni Jurusan Komunikasi Unhas dan Manajemen SDM

