Advertisement
Teknologi
Beranda » Berita » ORARI Diuji Zaman Digital, Sekjen ORARI Pusat : Proses Regenerasi akan Terus Berjalan

ORARI Diuji Zaman Digital, Sekjen ORARI Pusat : Proses Regenerasi akan Terus Berjalan

JAKARTA, TERASWAKTOE.COM—

Regenerasi anggota Organisasi Amatir Radio Indonesia dinilai menghadapi tantangan serius. Komposisi keanggotaan yang didominasi kelompok usia di atas 40 tahun memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan organisasi di masa mendatang.

Sejumlah pegiat radio amatir menilai, minat generasi muda untuk bergabung masih relatif rendah. Kondisi ini terjadi di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi berbasis internet yang menawarkan kemudahan, kecepatan, serta ragam fitur yang lebih praktis melalui perangkat telepon pintar.

Sekretaris Jenderal ORARI, Yusuf Budhyanto,-YB3DY mengatakan dominasi anggota berusia 45 tahun ke atas sejatinya telah berlangsung sejak lama. Upaya regenerasi, kata dia, juga telah dilakukan sejak beberapa dekade lalu.

“Pengenalan radio amatir sudah dilakukan sejak era 1980-an melalui kegiatan JOTA. Jadi, ini bukan fenomena baru,” ujar Yusuf saat dikonfirmasi pimpinan redaksi Teraswaktoe.com, Wahyuddin Suyuti.-YB8FBL, Senin 6 April 2026.

Siti Fathiyyah Azizah( YC8BUL) , Bukti Semangat Muda di Dunia Amatir Radio

Menurut dia, tantangan regenerasi tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi isu global. Perkembangan layanan komunikasi berbasis internet membuat radio amatir harus bersaing dengan platform digital yang lebih mudah diakses.

Untuk menjawab tantangan tersebut, organisasi radio amatir dunia, International Amateur Radio Union, menginisiasi program Youngsters On The Air (YOTA) guna menarik minat generasi muda. Program ini menyasar peserta berusia hingga 27 tahun agar mengenal sekaligus terlibat dalam aktivitas radio amatir.
Selain YOTA, ORARI juga aktif memperkenalkan radio amatir melalui kegiatan JOTA dan JOTI, termasuk sosialisasi ke sekolah dan perguruan tinggi.

Namun, Yusuf  Budhiyanto mengakui, keterlibatan remaja dalam aktivitas radio amatir memiliki keterbatasan. “Sebagai pelajar, mereka belum tentu memiliki waktu maupun sumber daya seperti anggota yang sudah bekerja. Paling tidak, mereka sudah dikenalkan terlebih dahulu,” katanya.

Di sisi lain, kebutuhan akan keterampilan komunikasi radio tetap dinilai penting, terutama dalam situasi darurat. Hal ini tercermin dari kerja sama dengan Kementerian Luar Negeri melalui program pelatihan bagi aparatur sipil negara yang akan bertugas di luar negeri.

“Pemerintah menyadari bahwa kemampuan komunikasi radio dan pengoperasian perangkatnya sangat dibutuhkan dalam kondisi tertentu,” ujar Yusuf.

BINCANG SANTAI BERSAMA KETUA BIDANG OPERASI DAN TEKNIK ORDA SULAWESI SELATAN ;Ir. H. Arfan Tualle, MBA, (YB8DKL) TERKAIT HAMFEST

Meski dihadapkan pada tantangan zaman, ORARI tetap optimistis proses regenerasi akan berjalan. Menurut Yusuf, pola pendekatan kepada generasi muda memang perlu menyesuaikan perkembangan teknologi dan karakter zaman.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Indonesia dijadwalkan menjadi tuan rumah kegiatan internasional YOTA untuk kawasan International Amateur Radio Union Region 3 yang akan digelar di Klaten, Jawa Tengah, pada akhir Oktober mendatang.

Kegiatan ini akan diikuti peserta muda dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik.
Ajang ini diharapkan dapat memperkuat eksistensi radio amatir sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal dunia komunikasi yang tetap relevan, terutama ketika teknologi modern tidak lagi dapat diandalkan.
PENULIS : WAHYUDDIN SUYUTI-YB8FBL

Foto : Ist

YC8BUL: Peringkat Pertama Kategori YL di SJDx Contest 2025