Advertisement
Budaya
Beranda » Berita » Melindungi, Meski Tak Diminta

Melindungi, Meski Tak Diminta

Kabut masih menggantung di lereng bukit ketika mereka melangkah perlahan menyusuri jalan setapak. Tanah basah karena hujan membuat setiap langkah harus lebih hati-hati.
Wanita itu berjalan di sampingnya. Di tangan kirinya tergenggam sebuah tongkat kayu sederhana, penopang langkah di medan yang menanjak. Sementara tangan kanannya memegang sehelai daun talas kecil yang dipetik dari tepi kebun.
Pria itu berjalan sedikit di depan. Di pundaknya tergantung handuk lusuh, dan di tangannya terbentang daun talas yang jauh lebih besar. Daun itu ia gunakan sebagai payung alami, melindungi dirinya dari gerimis tipis yang sesekali turun dari langit yang murung.
Namun beberapa kali, ketika matahari mulai menembus kabut atau gerimis datang lebih deras, daun talas besar itu bergeser. Bukan lagi menaungi dirinya, melainkan menutupi kepala wanita di sampingnya.
“Aku tidak apa-apa,” kata wanita itu.
Pria itu hanya tersenyum.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa daunnya selalu kau arahkan ke aku?”
Pria itu diam sesaat. Pandangannya menerobos kabut yang perlahan menipis.
“Karena cinta kadang seperti daun talas ini,” jawabnya pelan. “Orang sering melihatnya hanya selembar daun. Padahal tugasnya bukan untuk dipandang, melainkan melindungi.”
Wanita itu menunduk, menyembunyikan senyum yang muncul di bibirnya.
Perjalanan masih panjang. Jalan masih menanjak. Usia mereka juga tak lagi muda.
Tetapi di antara kabut, lumpur, dan jalan yang berliku, mereka memahami satu hal yang sering dilupakan banyak orang:
Cinta bukan tentang bunga yang mekar pada awal perjumpaan.
Cinta adalah seseorang yang tetap mengangkat daun talas di atas kepalamu, bahkan ketika tangannya sendiri mulai lelah.
Dan kadang, bentuk cinta yang paling tulus bukanlah kata-kata yang diucapkan setiap hari, melainkan langkah-langkah kecil yang terus menemani sampai perjalanan pulang.