Jakarta, Teras waktoe.Com—
Di balik perannya sebagai Lurah Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Istambul Afrikana menyimpan jejak panjang yang telah terbaca sejak masa mahasiswa.
Penulis mengenalnya bukan pertama kali sebagai lurah, melainkan sebagai rekan satu jurusan di Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin saat itu penulis angkatan 1986 dan dia angkatan 1987.
Di bangku kuliah itulah karakter kepemimpinannya mulai terlihat.
Istambul dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul dan cepat membangun jaringan pertemanan lintas kelompok. Ia energik dalam diskusi, aktif dalam kegiatan kampus, serta menunjukkan kecerdasan dalam menyampaikan gagasan.
Setiap argumen yang disampaikan terstruktur dan berbasis pemikiran yang matang.
Disiplin menjadi ciri lain yang menonjol. Ia terbiasa datang tepat waktu dalam perkuliahan maupun agenda organisasi. Dalam forum debat atau diskusi kelas, ia tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengar dengan serius. Kemampuan mendengar inilah yang kini terasa relevan dengan perannya sebagai pemimpin wilayah.
Sebagai lurah di kawasan Karet Kuningan yang dikenal sebagai pusat bisnis dengan dinamika sosial tinggi, pendekatan komunikatif menjadi bagian penting dalam kepemimpinannya. Ia menegaskan bahwa komunikasi efektif menjadi kunci menjaga ketertiban dan kenyamanan lingkungan.
“Komunikasi yang baik memudahkan penyelesaian persoalan di tingkat kelurahan. Yang utama adalah mendengar dan mencari solusi bersama,” ujarnya.
Pelayanan administrasi, penanganan pengaduan warga, hingga koordinasi dengan berbagai unsur masyarakat dijalankan secara terbuka dan responsif. Bagi penulis, gaya kepemimpinan tersebut bukan hal baru. Ia merupakan kelanjutan dari karakter yang telah terbentuk sejak masa kuliah: terbuka, komunikatif, dan konsisten dalam menjalankan tanggung jawab.
Jejak mahasiswa yang mudah bergaul dan disiplin itu kini menjelma menjadi lurah yang menempatkan dialog sebagai fondasi pelayanan publik.
Penulis :WAHYUDDIN SUYUTI

