Advertisement
Inspirasi
Beranda » Berita » Ketika Foto Mengingatkanku pada Waktu

Ketika Foto Mengingatkanku pada Waktu

Malam itu, Sabtu 3 Desember 2026 sekitar pukul 22.00 Wita aku membuka galeri foto pada telepon selular. Jariku bergerak perlahan, menelusuri gambar demi gambar yang tersimpan tanpa suara. Hingga tiba-tiba, pandanganku berhenti pada satu foto keluarga yang diabadikan pada Hari Raya Idul Fitri tahun 2023.

Entah mengapa, dadaku terasa berbeda saat menatapnya. Wajah-wajah yang tersenyum itu tampak begitu utuh, begitu lengkap—seolah waktu sedang berbaik hati pada kami. Ada kehangatan yang menetap di sana, tetapi juga rasa yang sulit dijelaskan, seperti isyarat halus bahwa kebersamaan ini tak akan selamanya sama.

Dari foto itulah, ingatanku berjalan mundur. Pelan, lirih, dan penuh tanya. Lalu kata-kata ini pun lahir, sebagai jejak yang pasti akan ditinggalkan. sebagai doa, sekaligus sebagai pengakuan bahwa waktu selalu punya cara sendiri untuk mengajari kita tentang kehilangan.

Suatu saat, kita semua pasti akan berpisah.
Tidak ada yang benar-benar siap untuk kalimat itu, meski kita tahu ia akan datang tanpa mengetuk pintu.

Lebaran di tahun 2023, aku masih bisa berkumpul bersama. Duduk dalam satu ruang, tertawa pada hal-hal kecil, saling menatap tanpa menyadari bahwa kebersamaan seperti ini perlahan menjadi langka. Saat itu usiaku sekitar 55 tahun—masih kuat tertawa, masih sabar mendengarkan cerita anak-anaknya, masih terlihat tegar di hadapan waktu.

Lintas Negara, Berakar di Tanah Bugis: Kisah Keluarga Ridwan Djohan Malewa (Ketua DPP ORARI Lokal Barru,Sulsel)

Namun waktu tidak pernah berhenti. Ia berjalan pelan, tetapi pasti. Rambutku  akan semakin memutih, langkah kian melambat, dan suaraku  mungkin tak lagi sekuat hari ini. Ada pertanyaan yang tak pernah berani diucapkan: entah aku masih diberi umur panjang untuk menyaksikan anak-anakku berkeluarga, memeluk cucu atau sekadar duduk diam menikmati senja bersama mereka.

Kelak, ketika kursi itu kosong, tawa ini akan terdengar berbeda. Lebaran akan tetap datang setiap tahun, tetapi rasanya tak pernah sama.

Rumah itu suatu saat pasti akan sepi, dan kita akan mengenang hari-hari itu  sebagai kenangan yang terlalu indah untuk diulang, terlalu perih untuk dilupakan.

Maka selama waktu masih memberi ruang, selama aku masih ada di tengah keluarga , peluklah lebih lama. Dengarkan aku lebih sabar. Karena perpisahan tidak selalu datang dengan air mata—kadang ia datang diam-diam, lalu menyisakan rindu yang tak pernah selesai

Barru,Sabtu 3 Desember 2026
Wahyu Suyuti

Meniti Hari Baru: Kisah Pensiunan Titus Marasin yang Tetap Produktif