OPINI
Teraswaktoe.com —
Kegiatan JOTA-JOTI 2025, yang berlangsung pada 17 hingga 19 Oktober 2025, berakhir dengan meninggalkan kesan kuat
Generasi millenial ternyata masih punya minat pada dunia komunikasi radio. Di berbagai daerah, peserta Pramuka menunjukkan antusiasme tinggi untuk belajar mengudara, menandakan bahwa program ini bisa menjadi titik awal pembinaan berkelanjutan bagi ORARI.
Bukti nyata semangat itu terlihat dari sosok Kensha Lathifa Sofia Lenggana,(YD1KLS) anggota Orari Lokal Bogor Provinsi Jawa Barat yang telah mengenal dunia radio amatir sejak usia empat tahun. Kini, di usianya yang masih belia, ia tumbuh sebagai salah satu wajah muda yang menghidupkan kembali semangat komunikasi melalui udara.

Semangat serupa juga hadir pada Siti Fathiyyah Sappe (YC8BUL) ,anggota Orari Lokal Pangkep provinsi Sulawesi Selatan, siswi SMA Negeri 11 Pangkajene dan Kepulauan Sulawesi Selatan) berusia 17 tahun yang kini duduk di kelas 12. Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, Fathiyyah menunjukkan ketekunan mempelajari dunia amatir radio dan aktif dalam kegiatan amatir radio Itingkat nasional maupun Internasional.
Kedua sampel ini adalah peserta JOTA-JOTI dan menjadi bagian dari generasi yang siap meneruskan tongkat estafet komunikasi radio di masa depan.
Kisah keduanya menjadi cermin bahwa regenerasi di tubuh ORARI bukanlah mimpi, asalkan peluang dan bimbingan terus dibuka bagi mereka yang ingin belajar.
Bagi ORARI, kegiatan JOTA -JOTI menjadi jembatan penting untuk menyalakan kembali minat generasi muda terhadap dunia komunikasi radio. Di tengah derasnya arus teknologi digital dan kemudahan aplikasi percakapan, JOTA-JOTI membuktikan bahwa komunikasi lewat gelombang radio masih punya pesona lebih nyata, lebih menantang, dan sarat nilai kebersamaan.
Namun harapan itu hanya akan berarti bila ORARI di semua tingkat organisasi bergerak menindaklanjuti. Hasil kegiatan harus diolah menjadi langkah nyata: pembinaan lanjutan, pelatihan teknik radio di tingkat kwarran maupun kwarcab, hingga penyediaan perangkat komunikasi sebagai laboratorium belajar.

Penyediaan perangkat ini bisa dilakukan melalui kerja sama dengan Kwarcab atau Kwarran, agar kegiatan komunikasi tidak berhenti di acara tahunan semata, tetapi menjadi bagian dari pembinaan rutin yang berkelanjutan.
JOTA-JOTI telah membuktikan bahwa minat itu masih ada. Kini tinggal bagaimana ORARI menjaga bara kecil itu, menumbuhkannya menjadi api yang menerangi masa depan komunikasi radio Indonesia.
Dari sinilah masa depan ORARI bisa kembali bersuara: lebih dekat dengan generasi muda, lebih terbuka pada pembelajaran, dan lebih siap menyalakan kembali semangat komunikasi yang menyatukan tanpa batas ruang dan waktu.
Penulis :YB8FBL
-Dokumentasi Foto : Liesda Ryani (YB1JYL) dan Mashud Sappe (YC8ES)
Catatan Redaksi :
-Penulis adalah Pimpinan Redaksi Teras Waktoe. Com, Alumni Jurusan Komunikasi Unhas
– Wakil Ketua Orari Lokal Barru Provinsi Sulawesi Selatan
—

