Advertisement
Daerah
Beranda » Berita » Monumen Perjuangan di Jantung Kota Barru, Jejak Sejarah yang Tak Boleh Dilupakan

Monumen Perjuangan di Jantung Kota Barru, Jejak Sejarah yang Tak Boleh Dilupakan

Barru, Teraswaktoe.com —
Di tengah hiruk pikuk aktivitas kota, mungkin tak banyak yang menyadari bahwa di salah satu sudut Kota Barru, berdiri sebuah jejak sejarah yang sarat makna. Tepat di persimpangan Jalan Sultan Hasanuddin dan Jalan Jenderal Sudirman, berdekatan dengan Tugu Payung, berdiri kokoh sebuah monumen perjuangan.

Monumen ini dibangun sebagai bentuk penghargaan atas jasa para pahlawan dan pejuang kemerdekaan asal Kabupaten Barru yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya bangsa. Keberadaannya menjadi jejak sejarah tentang perjuangan panjang yang pernah dilalui.

Monumen perjuangan tersebut diresmikan sekitar 40 tahun silam, tepatnya pada 9 November 1986 oleh Prof. H. Ahmad Amiruddin. Sejak saat itu, monumen ini menjadi saksi bisu perjalanan waktu di tengah perkembangan kota Barru.

Prof. Dr. H. Nasruddin Suyuti, M.Si., M.I.Kom., salah seorang putra daerah Barru yang berkiprah di Sulawesi Tenggara, kini menjabat sebagai Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Provinsi Sulawesi Tenggara.mengatakan,

Shalat idul Fitri 1 Syawal 1447 H bagi warga Muhammadiyah di Masjid Nurultajdid Pepabri Batal Digelar, Penolakan Warga Picu Ketegangan

Monumen perjuangan selain berfungsi sebagai simbol penghormatan kepada para pahlawan, juga menjadi media pembelajaran yang penting bagi generasi muda untuk memahami sejarah dan menumbuhkan semangat kebangsaan.

Namun, lebih dari itu kata mantan Ketua KKDB Provinsi Sulawesi Tenggara ini, Monumen memiliki peran penting sebagai ruang edukasi dan refleksi, khususnya bagi generasi muda. Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman.

Wahyudin Suyuti-