Barru, TerasWaktoe.com —
Kabupaten Barru dinilai memiliki potensi ekonomi yang besar. Namun, potensi tersebut membutuhkan kerja keras, kesamaan persepsi, serta desain pembangunan yang terarah agar mampu mengejar ketertinggalan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Penilaian itu disampaikan Harianto Albar, salah seorang putra Barru yang sukses berkiprah di Jakarta dalam bisnis energi terbarukan.
Hal tersebut disampaikannya saat berbincang santai dengan sejumlah wartawan PWI Barru di RM Kintan Buffet, Grand Indonesia West, Lantai III A, Selasa, 10 Februari 2026.
Dalam pertemuan itu, berbagai isu dibahas, mulai dari kondisi ekonomi daerah hingga peluang pengembangan sektor unggulan Barru.
Harianto menilai lemahnya daya beli masyarakat tidak terlepas dari kecilnya perputaran uang di tingkat lokal.
“Daya beli masyarakat kita masih rendah karena perputaran uang di daerah juga kecil. Ini terjadi karena sumber-sumber pendapatan belum dimaksimalkan. Pola pikir masyarakat masih cukup untuk makan hari ini, padahal daerah ini punya potensi jauh lebih besar,” ujarnya.
Bendahara DPP BKPRMI Pusat ini menekankan pentingnya pemerintah daerah menyiapkan grand desain pembangunan ekonomi yang disertai edukasi berkelanjutan kepada masyarakat. Salah satu kunci utama, menurutnya, adalah memastikan rantai pasar yang jelas dari hulu hingga hilir.
Selain itu, akses pendanaan juga menjadi faktor penting. Harianto menekankan perlunya jaminan dan dukungan pemerintah agar masyarakat, khususnya pelaku sektor pertanian dan perikanan, lebih mudah memperoleh pembiayaan dengan bunga rendah.
“Teknologi sebenarnya sudah ada, sumber pendanaan juga ada. Yang dibutuhkan adalah kehadiran pemerintah untuk menjamin penyaluran dana itu. Bunga pembiayaan pertanian bisa ditekan hingga tiga persen dengan jaminan pemerintah, sehingga masyarakat berani dan mampu mengembangkan usaha,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya kepastian pasar pascapanen. Menurutnya, hasil panen masyarakat harus dipastikan terserap dengan harga yang layak, kemudian diolah menjadi produk bernilai tambah di daerah sendiri.
Dalam konteks tersebut, sektor udang disebut sebagai salah satu potensi unggulan Barru yang sangat menjanjikan. Dengan luasan tambak yang besar, sektor ini dinilai mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan.
“Bayangkan jika ada sekitar 5.000 hektare tambak, satu hektare melibatkan lima orang tenaga kerja. Artinya ada potensi 25 ribu lapangan kerja. Ini peluang besar. Tidak mudah memang, tapi juga tidak sulit jika ada komitmen bersama,” jelasnya.
Harianto juga menekankan pentingnya memaksimalkan keberadaan Pelabuhan Garongkong, yang disebut sebagai salah satu pelabuhan terdalam dan terbesar kedua di Indonesia.
Menurutnya, pelabuhan tersebut dapat menjadi pusat perdagangan dan jasa pengiriman, sekaligus mendukung ekspor produk unggulan Barru.
“Kita punya Pelabuhan Garongkong. Ini aset besar yang harus dimanfaatkan. Jika udang Barru diolah di Barru, dikemas di Barru, lalu dikirim melalui pelabuhan kita sendiri, itu akan menjadi kebanggaan. Orang akan bertanya, dari mana? Dari Barru, penghasil udang terbaik di Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pada dasarnya setiap daerah memiliki potensi, tinggal bagaimana kemauan untuk mengembangkannya. Barru, menurutnya, termasuk daerah yang memiliki peluang besar di sektor perikanan, khususnya udang.
“Kuncinya adalah menyamakan persepsi antara masyarakat dan pemerintah. Pemerintah harus hadir sebagai regulator, inisiator, sekaligus penggerak. Jika semua pihak melangkah bersama, saya yakin itu bisa terwujud,” tutup Harianto Albar.
Diketahui, Harianto Albar pernah membuat pembangkit listrik tenaga kincir air berbasis mikrohidro (PLTMH) pada 2008, saat masih terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kimia Universitas Negeri Makassar.
Penulis: WAHYUDDIN SUYUTI

