Advertisement
Inspirasi
Beranda » Berita » Lintas Negara, Berakar di Tanah Bugis: Kisah Keluarga Ridwan Djohan Malewa (Ketua DPP ORARI Lokal Barru,Sulsel)

Lintas Negara, Berakar di Tanah Bugis: Kisah Keluarga Ridwan Djohan Malewa (Ketua DPP ORARI Lokal Barru,Sulsel)

Setiap keluarga menyimpan kisahnya sendiri. Ada yang tumbuh dari satu kampung ke kampung lain, ada pula yang berawal dari lintas benua, menyeberangi zaman, lalu berakar di tanah yang jauh dari tempat asalnya.
Kisah keluarga Ridwan Djohan Malewa (YD8EQR) berangkat dari lintasan panjang itu—sebuah persilangan sejarah Belanda, Jerman, dan Sulawesi Selatan yang perlahan menyatu dalam denyut kehidupan Bugis.

Di dalam darah Ridwan Djohan Malewa usia 63 Tahun, warga Desa Madello Kecamatan Balusu Kabupaten Barru provinsi Sulawesi Selatan , mengalir garis keturunan Belanda dan Jerman.

Jejak itu melampaui silsilah nama, menjelma rangkaian peristiwa sejarah yang berawal dari masa Hindia Belanda, bergerak lintas pulau, lalu menetap dan tumbuh bersama denyut budaya Tanah Bugis.
Jejak tersebut bermula ketika sang kakek , Herman Van den Vrijhoef, warga negara berkebangsaan Belanda pada sekitar tahun 1920, ditugaskan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai konsultan dalam pengawasan pembangunan jalan Trans Sulawesi. Dengan latar belakang sebagai insinyur pengaspalan, ia berkeliling wilayah Sulawesi untuk menjalankan tugas teknis yang kala itu menjadi bagian penting dari pembangunan jalan Trans Sulawesi oleh pemerintah kolonial.Dalam tugas pengawasan itulah, takdir mempertemukannya dengan seorang perempuan Bugis bernama I Bossa, yang berdomisili di Madello, Desa Madello, Kecamatan Balusu Kabupaten Barru. Provinsi Sulawesi Selatan.Dari pertemuan yang tak pernah direncanakan, tumbuh rasa saling cinta hingga keduanya melangsungkan pernikahan sekitar tahun 1920. Dari pernikahan tersebut lahir tiga orang anak, terdiri dari dua perempuan dan satu laki-laki.yang diberi nama Johan Herman wijnand Van den vrijhe

Ketika Foto Mengingatkanku pada Waktu

Sekitar sepuluh tahun setelah anak-anak mereka lahir, pasangan ini membawa keluarga kecilnya ke Bau-Bau, Buton, Sulawesi Tenggara, untuk mendukung lanjutan tugas pengawasan pembangunan jalan. Mereka menetap di sana kurang lebih satu dasawarsa, sebelum akhirnya kembali berpindah ke Makassar pada sekitar tahun 1940-an. Di kota ini, keluarga tersebut tinggal di Jalan Sungai Saddang No. 88, sebuah alamat yang kemudian menjadi bagian penting perjalanan hidup anak-anak mereka.

Di Makassar, Johan Herman wijnand Van den vrijheef—putra Herman van der Preuw—mengenyam pendidikan di sekolah Belanda MULO, setara jenjang SMA pada masanya. Di bangku sekolah itu pula, Johan tercatat pernah sekelas dengan Andi Mattalatta, salah satu tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Namun sebelum Johan menyelesaikan pendidikannya, sang ayah dipulangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk kembali ke Belanda.dan sejak saat itu tidak pernah lagi kembali.

Johan kemudian melanjutkan kehidupannya di Makassar bersama Ibu dan dua saudara perempuannya tanpa kehadiran Ayah di sisi mereka.
Pada masa sekolah di MULO, Johan Herman wijnand Van den vrijheef berkenalan dengan seorang perempuan blasteran Jerman bernama Suzanna Marianne Muller, yang kelak menjadi pendamping hidupnya. Dari pernikahan Johan Herman wijnand Van den vrijheef dan Susanna Marianne Muller lahirlah dua belas orang anak, terdiri dari empat perempuan dan delapan laki-laki.

Meniti Hari Baru: Kisah Pensiunan Titus Marasin yang Tetap Produktif

Sekitar tahun 1960-an, keluarga besar ini kembali menetap di Madello, tempat yang menjadi simpul awal sekaligus penutup lingkar sejarah keluarga mereka. Dari dua belas bersaudara tersebut, Ridwan Djohan Malewa atau “Sjam Ridwan sesuai akte kelahiran tercatat sebagai anak dari pasangan Johan Herman wijnand Van den vrijheef dan Susanna Marianne Muller dan sebagai anak kesembilan Ridwan Sjam lahir Hari Jumat tgl 06 April 1962

Dari Madello, kisah keluarga ini terus berlanjut—memadukan darah Belanda dan Jerman dengan Bugis, menyatukan jejak kolonial dengan akar lokal, dan tumbuh sebagai satu keluarga yang hidup di antara sejarah, perjalanan, dan tanah kelahiran Bugis
Riwayat keluarga ini menunjukkan bagaimana , tugas , dan ikatan pernikahan membentuk silsilah keluarga di Sulawesi Selatan. Hingga kini, kisah tersebut tetap hidup melalui ingatan dan cerita yang diwariskan di lingkungan keluarga Ridwan Djohan Malewa.
Penulis : Wahyuddin Suyuti (YB8FBL)

 

 

 

Misteri Kematian Empat Sapi di Jalan Poros Barru Makassar- Belum Ada Pemilik yang Mengaku